Friday, August 21, 2015



       Bangsa yang besar merupakan bangsa yang tak pernah melupakan sejarahnya, apapun itu. Sejarahlah yang membuat bangsa kita kaya akan keragaman budaya. Tak ada salahnya, sesekali cobalah mengintip sisa sejarah yang konon katanya seperti bangunan peradaban Suku Maya di Amerika sana.
Siang itu, biru mewarnai langit saat saya tiba di pelataran candi. Di kejauhan tampak bangunan dengan desain yang sederhana, tak seperti candi-candi lain yang lebih detail bangunannya. Hanya ada satu candi saja yaitu Candi Sukuh, terlihat seperti tumpukan batu saja karena memang tak banyak relief yang menghiasi dinding candi. Beberapa patung di pelataran menjadi penghias candi. Tak butuh waktu lama untuk mengitari seluruh bagian candi. Saya pun sejenak menyempatkan diri untuk singgah di warung sate kelinci di lingkungan candi, makanan khas daerah pegunungan. Hawa sejuk yang berhembus membuat perut terasa lapar dan butuh minuman hangat. Saya pun memesan satu porsi sate kelinci dan teh panas. 
Candi Sukuh

Sate Kelinci

Puas menikmati kuliner khas pegunungan, saya pun beranjak menuju ke Air Terjun Parang Ijo karena Air Terjun Tawangmangu terlalu mainstream bagi saya. Letaknya tak begitu jauh dari Candi Sukuh tadi. Air terjun ini memiliki anak tangga yang cukup tinggi seperti Air Terjun Bantimurung di Maros sana, air terjunnya pun cukup tinggi. Soal indah tak perlu diragukan lagi, cukup memukau pandangan mata dan menyejukkan udaranya. Bermain air pun sepertinya merupakan hal wajib jika berkunjung ke sana karena airnya sangat jernih. Saya tak begitu lama di tempat ini, puas menikmati pemandangan perbukitan dan akhirnya saya pun menuju tempat selanjutnya yaitu candi yang fenomenal dengan kesamaannya seperti candi pada Suku Maya yaitu Candi Cetho. 
Candi Cetho
Pelataran Candi Cetho yang mirip dengan bangunan peradaban Suku Maya
Candi Cetho dikatakan oleh beberapa pakar sejarah bahwa memiliki kemiripan dengan bangunan peradaban Suku Maya. Hal tersebut bisa dilihat dari bebatuan yang terdapat di pelataran candinya. Tak hanya itu, umur bebatuan yang terdapat di Candi Cetho pun katanya hampir sama umurnya dengan bebatuan di Suku Maya sana. Saya pun agak terkejut ketika mengunjunginya karena bentuk bebatuan yang tersusun rapi itu sama persis dengan bangunan peradaban Suku Maya. Sungguh mengagumkan sekali karena ternyata Indonesia pun kaya sekali dengan sejarah yang sebenarnya belum kita ketahui. Di bagian belakang Candi Cetho ini pun terdapat bangunan untuk bersembayang karena terdapat sesaji dan dupa. Jika berjalan naik ke belakang area Candi Cetho terdapat Candi Saraswati yang biasanya digunakan untuk upacara hari raya Nyepi. 
Candi Saraswati

Kebun Teh Kemuning

Tak sampai disini saja perjalanan saya, saat kembali pulang melewati hamparan kebun teh yang menarik dan sayang jika tak disinggahi. Kebun teh Kemuning yang terhampar menghijau itu begitu menyejukkan sekali. Tak mau terlewatkan, saya pun menyempatkan diri untuk mengabadikan moment itu. Karena gambarlah yang kelak akan menjadi cerita untuk saya ceritakan kepada siapapun. Hingga akhirnya saya pun kembali ke rumah kedua saya, Jogjakarta untuk pulang.

1 komentar:

This comment has been removed by a blog administrator.

Dear Widha . . . . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates