Friday, August 24, 2018

Sepi memang mengajarkan bahwa hidup tak mungkin sendiri. Namun, terkadang juga menghadirkan guratan senyum tatkala ia menawarkan kejutan indah.

            Keramaian kota mungkin sudah terlalu lelah saya rasakan. Meski nyaman tapi sepi justru saya pilih untuk menghabiskan hari terakhir di bulan Desember. Melajukan motor dari tempat tinggal saya, Jogja menuju kota di perbatasan selatan Jawa bagian tengah dan timur. Melewati kota-kota berpantai eksotis seperti Wonosari, Wonogiri, Pacitan dan berakhir di Trenggalek.
            Kendaraan roda dua membawa saya mengintari kota berpantai itu selama hampir lima jam. Malam mencekam tak lagi saya hiraukan. Ada banyak pengendara lain yang terkadang membunuh sepi. Namun, seringkali sepi itu muncul ketika melewati desa dengan hamparan hutan. Perjalanan ini begitu mengerikan dan seolah tak berujung. Jarak yang begitu panjang akhirnya membuat saya tak sanggup dan mengakhiri perjalanan ini di ujung barat kota Trenggalek.
            Sebuah daerah bernama Pelang menjadi akhir dari perjalanan saya. Malam tahun baru di desa yang tak begitu ramai jika dibandingkan di Jogja. Saya lebih memilih menghabiskan waktu untuk istirahat di hotel satu-satunya di daerah Pelang. Satu-satunya penginapan di depan Polsek Pelang dengan tarif yang cukup mahal untuk ukuran desa yakni Rp 150 ribu. Di alun-alun Pelang memang banyak orang berkumpul untuk merayakan pergantian tahun. Namun, saya memilih beristirahat karena lelah yang saya kira perjalanan akan terasa menyenangkan. Begitulah perjalanan, tak selamanya bisa seperti apa yang kita harapkan.
            Saat subuh, saya pun bangun dan mencoba keluar penginapan. Ternyata begitu sepi, lantas saya pun melajukan motor saya ke arah Pantai Pelang. Pantai Pelang ini rupanya dekat dengan penginapan, hanya saja jalannya yang masuk jalan desa. Begitu sampai di parkiran pantai, ternyata banyak orang yang berada di pantai usai merayakan tahun baru. Tak ada retribusi, hanya tiket parkir saja. Murah kan?
            
Pantai Pelang dari ketinggian
            Pantai Pelang akhirnya bisa menjadi penyemangat saya pada hari pertama di bulan Januari. Pemandangannya cukup indah dengan pasir putih, teluk, dan pulau kecil yang berada di antara teluk. Tak lama saya bermain air laut, kemudian saya berjalan menuju kearah Air Terjung Pelang. Nama air terjunnya sama dengan pantainya karena memang satu lokasi. Memang agak heran karena baru pertama kali saya melihat air terjun yang lokasinya sangat dekat dengan pantai. Bahkan, rasa air terjunnya pun tidak asin. Hehehe . . .
Air Terjun Pelang
                        
Jalan menuju Pantai Pelang
            Area pantai dan air terjun Pelang ini sungguh asri, enak untuk berjalan-jalan dan santai. Tak lama kemudian, saya kembali ke penginapan untuk mandi dan check out lebih pagi. Saya melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor ke arah timur melalui jalur selatan. Sayang, saya tak menemukan pantai berpasir putih lagi. Apalagi jalanan bagian selatan sangat rusak, untuk dilewati motor saja sangat susah. Begitu pula dengan jalurnya yang sangat panjang untu menuju Trenggalek bagian timur. Dan, akhirnya saya “angkat tangan” serta memilih pulang ke Jogja. Lucu yaa, traveler seperti saya koq mudah menyerah. Tapi bukan itu saja sih pertimbangan saya, dengan jalanan yang sangat rusak saya khawatir ban motor pecah dan sulit menemukan bengkel. Yah, semoga suatu hari bisa kembali lagi mengexplore kota Trenggalek. See yaa . . .

Dear Widha . . . . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates