Friday, June 17, 2016

Puncak Gunung Prau
Yang paling mahal dari suatu perjalanan adalah kesempatan
            Sepertinya benar bahwa kesempatan itu sangat berharga. Buktinya meski sudah berkali-kali mengunjungi negeri di atas awan bernama Dieng saya tetap saja belum berkesempatan naik Gunung Prau. Gunung dengan ketinggian 2565 Mdpl tersebut begitu fenomenal dengan golden sunrise yang maha indah. Hal itulah yang membuat saya ingin sekali ke sana.
            Pada tahun baru 2016 lalu, saya dan kekasih mungkin menjadi sebagian orang yang lebih memilih untuk tidur di kamar masing-masing ketimbang merayakan pesta pergantian tahun. Namun, di hari kedua tahun 2016 kami justru melakukan perjalanan menuju Gunung Prau. Destinasi itulah yang sudah lama menjadi incaran kami berdua.
            Hari itu cuaca kian tak menentu, mendung dan mulai ada rintik hujan. Tetapi, menjelang sore cuaca berubah menjadi mendukung. Kami pun segera bersiap-siap melakukan perjalanan menuju Dieng, Wonosobo. Peralatan pendakian sudah dipersiapkan dengan baik. Usai maghrib, motor yang kami tumpangi segera melaju ke Kota Wonosobo dengan membawa carrier kami yang masing-masing berukuran 60 liter.
            Motor melaju dengan cepat dan melewati jalanan berkelok. Sesekali kami juga berhenti untuk mengisi bahan bakar dan meneguk air minum. Setelah menghabiskan perjalanan selama hampir empat jam akhirnya kami sampai di basecamp Kali Lembu. Basecamp ini berada di Dusun Kali Lembu. Tak cukup lama beristirahat, hanya memarkir motor dan membayar simaksi sebesar Rp 10.000 untuk setiap orang. Setelah itu kami mengawali pendakian dengan berdoa. Ya, kurang lebih jam sepuluh malam kami memulai perjalanan.
            Malam itu hanya ada kami berdua di sepanjang jalur pendakian. Kami berjalan membelah gelapnya malam di jalur pendakian dengan santai sembari mengatur nafas. Menerangi jalan menuju puncak dengan cahaya lampu senter. Carrier 60 liter yang kami bawa masing-masing tak seberapa berat, tapi untuk wanita agaknya memang terasa sekali bebannya.
Sepanjang perjalanan, kami saling melempar canda tawa dan obrolan di antara malam yang kian larut.  Hingga tak terasa kurang dari dua jam kami sampai di area camp yang lapang. Rupanya sudah ada beberapa pendaki yang tiba di area camp lebih dulu. Sesegera mungkin kami bekerja sama memasang tenda yang ternyata hanya memakan waktu kurang dari setengah jam.
            Tak dipungkiri, lelah memang sudah menghinggapi sekujur tubuh. Jalur pendakian yang dilalui memang tak begitu menanjak. Namun, perjalanan dari Semarang hingga Dieng membuat badan cukup letih. Usai mendirikan tenda, kami membuka bekal makanan yang dibeli saat perjalanan. Berdua menikmati makan malam dengan menu ayam goreng dan lalapan, sungguh nikmat sekali. Apalagi suasana langit yang berbintang dan kerlap kerlip lampu kota di bawah sana menambah keindahan malam.
Usai makan, kami pun terlelap di dalam kantong tidur masing-masing. Hembusan angin malam di gunung dan dinginnya cuaca membuat kami menggigil dan terlelap hingga subuh menjelang.
Sayup-sayup terdengar langkah kaki beberapa orang lewat untuk menuju puncak yang begitu dekat. Kami pun akhirnya terbangun dan membuka pintu tenda.
“Selamat pagi, kamu. Selamat pagi, Gunung Prau,” ucap saya lirih.
Terlihat langit masih agak gelap dan matahari belum menampakkan cahayanya. Saya bersiap-siap untuk keluar tenda. Tetesan embun yang terasa segar membasahi bagian luar tenda. Hembusan udara pagi itu begitu sejuk.
Selamat pagi Gunung Prau
Menanti matahari terbit
Sunrise
Kami berjalan beberapa langkah dari tenda, menyapa para pendaki lain yang berada di sekitar. Yang kami lakukan seperti sebuah ritual wajib dalam sebuah pendakian, menunggu semburat merah itu muncul dari peraduannya. Siapa lagi jika bukan sunrise atau matahari terbit.
Lantas, sedikit demi sedikit semburat merah itu mulai muncul. Bercampur awan tipis dan angin sepoi-sepoi di pagi hari. Bukit dengan sebutan “bukit teletubies” terhampar luas dengan background matahari terbit. Detik demi detik kemunculannya terabadikan dalam kamera digital yang kami bawa. Indah sekali saat momen itu tiba. Tuhan begitu sempurna menciptakan bumi, jadi sebisa mungkin nikmatilah dan syukuri semua keindahan itu.
Berdua di Puncak Gunung Prau
Sisi lain dari puncak Gunung Prau
Saat matahari mulai meninggi dan terik, kami pun bersiap untuk turun. Sebelumnya kami sudah menyantap sarapan pagi dengan menu yang sederhana, sesederhana cara kami menikmati semua perjalanan ini. Menempuh jalur semalam yang dilalui selama kurang lebih satu jam menuju basecamp. Tak lama kemudian, kami melajukan sepeda motor untuk kembali ke Semarang. Hidup akan serasa tak berarti jika hanya berdiam diri, sesekali nikmati hari-hari yang tak bisa terulang kembali. Harapan selanjutnya, semoga Tuhan membawa kami untuk berpetualang menjelajah tanah Bali dengan tiket pesawat gratis dari Reservasi.com serta reservasi hotel di website tersebut. 



Artikel ini telah mengantarkanku jadi pemenang kedua di lomba blog contributor Reservasi http://blog.reservasi.com/pemenang-blog-contributor/ 


2 komentar

bagus banget tulisannya Widha.

salam kenal yaa

Happy Blogging

REPLY

Makasih sudah mampir blog ku ya . . . Happy blogging

REPLY

Dear Widha . . . . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates