Sunday, June 14, 2015




“Nikmatilah kopimu selagi masih panas”
Sepenggal kalimat itu memang benar adanya, tetapi sembari menikmati kopi pasti ada obrolan hangat yang mengalir diantaranya dan membuat suasana menjadi lebih asyik. Begitu pula saya yang selalu saja menjadikan kopi sebagai teman sejati baik ketika berkumpul dengan teman, keluarga maupun berjibaku dengan pekerjaan. Tak hanya mengunjungi warung kopi di dekat tempat tinggal, terkadang demi mencumbui aroma dan rasa kopi yang diinginkan saya harus menjamah beberapa warung kopi di berbagai daerah. Maka tak heran jika sudah bermacam-macam jenis kopi di Indonesia telah berhasil saya nikmati aroma dan rasa khasnya.
Tak cukup puas menjadi penikmat kopi saja, perlahan saya mulai belajar mengenal segala hal tentang kopi. Bahkan, terkadang terbersit dalam lamunan saya untuk mengunjungi tempat penghasil kopi agar bisa mengenal dan menikmati kopi sepuasnya. Sekian dari banyak impian, Lampung lah yang pernah ada dalam rencana saya untuk disinggahi. Lantas, dalam waktu yang Tuhan anggap paling tepat, semesta menjawab impian dan doa saya. Seulas kabar yang Nescafé berikan melalui telepon siang itu membuat saya tiba-tiba menjadi bahagia bercampur sedih yang memang ternyata tak berbatas. Kabar keberuntungan itulah yang membuat saya bisa berada diantara para blogger lainnya untuk menikmati perjalanan panjang menuju Lampung yang terkenal dengan kualitas kopi terbaiknya.  

***
            Siang itu, perjalanan menuju kota Lampung menjadi satu episode yang tak terlupakan dan layak untuk diceritakan. Bus White Horse yang menemani perjalanan melaju dengan kencang dari Jakarta menuju Pelabuhan Merak. Jarak tak lagi terasa jauh karena begitu menikmati perjalanan dengan hamparan laut yang menawarkan pemandangan menarik kala itu. Tetapi, terik matahari membuat saya lebih memilih duduk untuk menjauhi paparan sinarnya. Lewat tengah hari perlahan kapal pun mulai merapat. Pulau Sumatera yang sebelumnya belum pernah saya jamah terbentang di hadapan mata. Tak cukup disitu saja, perjalanan panjang ternyata masih menanti, bus kembali membelah jalanan menuju kota Lampung selama berjam-jam. Hingga pada akhirnya saya harus mengistirahatkan raga di hotel untuk menanti petualangan esok hari. 
Pemandangan Pelabuhan Merak
            Keesokan harinya, Lampung tak hanya menyapa saya dengan pemandangan alam yang indah tetapi biji kopi dengan kualitas terbaik di Indonesia pun ternyata ada di tempat ini. Ribuan hektar lahan kopi milik petani lokal terhampar di setiap sudutnya. Tanggamus, salah satu daerah penghasil biji kopi sekaligus menjadi Education and Development Farm milik PT Nestle Indonesia. Pada tanah seluas satu hektar tersebut terdapat lima jenis kopi robusta yang dikembangkan dari 1.100 pohon kopi. Di desa ini pula Nestle menunjukkan kepada para petani bagaimana cara mengembangkan bibit dan tanaman kopi yang baik. 
Education and Development Farm milik PT Nestle Indonesia
Betapa pentingnya edukasi terhadap petani kopi di Lampung, sebab dengan pengetahuan pembudidayaan tanaman kopi maka akan dapat meningkatkan kualitas serta produktivitas kopi. Sebanyak 15.000 petani kopi telah bekerja sama sekaligus menjadi mitra Nescafe. Para petani tersebut dibimbing oleh agronomis dari Nestle agar dapat membudidayakan tanaman kopi dengan benar sehingga menghasilkan biji kopi yang terbaik serta dapat memanen kebun kopinya setiap tahun. Sebelum dibagikan kepada petani, bibit-bibit kopi yang ditanam harus sudah diteliti terlebih dahulu di Pusat Penelitian Kakao dan Kopi, Jember.
            Memasuki masa panen, biji-biji kopi yang dihasilkan dari kebun milik petani itu nantinya akan diolah menjadi biji kopi kering yang siap dijual kepada Nescafé dengan harga jual yang lebih tinggi. Tetapi, sebelum diolah menjadi kopi instan Nescafé, biji-biji kopi tersebut harus sudah lolos uji kadar air, defect atau nilai cacat, dan tasting aroma. Biji kopi terbaik yaitu yang memiliki kadar air dibawah 12 persen dan memiliki defect maksimal 80. Biji kopi kering tersebut dapat diolah dengan cara tradisional maupun modern. 
Biji Kopi yang mulai memerah
Di salah satu gudang Kelompok Usaha Bersama (KUB) Robusta Prima, saya menyaksikan bagaimana petani yang bekerja sama dengan Nestle menjelaskan proses penanaman kopi secara tradisonal. 
Bibit kopi yang baik 

Pemilihan biji kopi dengan cara tradisional
Penjemuran biji kopi agar memiliki kadar air dibawah 12 persen untuk menghasilkan kopi yang nikmat
Selain itu, di tempat ini masih memproduksi kopi dengan cara tradisional mulai dari menjemur biji dibawah terik matahari, memilih biji kopi, dan mengecek kadar air. Sebelum mengakhiri kunjungan saya di tempat tersebut, Pak Kustianto selaku pemilik KUB Robusta Prima menyajikan kopi panas untuk dinikmati sembari bersantai diantara tanaman kopi di kebun miliknya. Akhirnya, kunjungan saya di hari pertama ini ditutup dengan mengunjungi Kelompok Usaha Bersama (KUB) Bintang Jaya yang mengolah biji kopinya secara modern. Melalui proses secara modern itulah saat ini KUB Bintang Jaya dapat menjual sebanyak 63 ton per harinya. Berkat program dari Nestle tersebut maka petani-petani di Lampung dapat terbantu untuk memproduksi kopi berkualitas dan menjadi petani kopi yang sukses. 
Pengolahan biji kopi dengan menggunakan mesin 

Proses mengecek kadar air pada biji kopi
Biji kopi yang siap dijual kepada Nestle
Gudang kopi KUB Bintang Jaya

Pada hari kedua kunjungan ternyata tak kalah seru dan menariknya dengan hari pertama saat menilik kebun kopi. Pagi itu, saya teramat begitu beruntung bisa mengunjungi Panjang Factory, Home of Nescafé. Mengapa begitu? Tak lain jawabannya karena di pabrik inilah saya bisa mengintip cara pembuatan kopi instant Nescafé dengan biji kopi terbaik dari petani Lampung. 
Selamat datang di PT Nestle Indonesia
Bapak Budi, Factory Manager PT Nestle menyambut dengan baik kunjungan saya beserta teman-teman blogger. Begitu pula Ibu Lusi yang dengan antusiasnya menyampaikan Creating Share Value bahwa Nestle memang begitu memberi manfaat kepada masyarakat baik konsumen melalui produk kopi instan Nescafé maupun bagi petani kopi di Lampung dengan hasil kopinya dan pendampingan  yang sepenuh hati. Tak butuh waktu lama, saya pun diajak ke ruang pemilihan biji kopi untuk memilih biji kopi hasil petani yang dikirim ke Nestle dan memastikan biji kopi aman untuk diproses. Setelah proses seleksi usai, maka biji kopi akan di roasting dan di grinding. Ya, akan ada empat panelis yang menilai biji kopi tersebut lolos untuk di produksi atau tidak oleh Nestle. Sendok kanan menuang kopi ke sendok kiri kemudian di seruput sampai menghasilkan bunyi yang keras. Sluurrpp! Aroma dan rasa kopinya yang begitu tajam dan nikmat, tetapi harus bisa membedakan apakah kopi tersebut memiliki rasa obat, tanah atau bahan kimia lain.   
Coffee Tasting setelah biji kopi diroasting 
            Masih ada proses selanjutnya untuk bisa saya pahami benar-benar ketika berada di pabrik Nestle ini. Apabila biji kopi susah lolos coffee tasting, maka proses selanjutnya yaitu pemisahan biji kopi yang sudah digiling dengan ampasnya yang sering disebut dengan ekstraksi. Barulah saya tahu mengapa aroma dalam sebuah bubuk kopi instan Nescafé masih tercium kuat. Tahap selanjutnya seusai kopi terpisah dari ampasnya yaitu mengubah menjadi bubuk kopi instan dengan menggunakan mesin. Terakhir, bubuk kopi instan yang sudah siap akan dikemas untuk kemudian dipasarkan kepada konsumen. Menarik bukan? Sama halnya dengan saya yang selalu saja dibuat tertarik berulang-ulang dengan aroma dan rasa kopi. Memang, sepertinya ada yang kurang ketika produk jadi dari bubuk kopi instan tersebut belum dicumbui aromanya. Terjejer di depan pandangan mata saya beberapa jenis kopi instan Nescafe yang bisa saya cicipi satu per satu. 
Coffee Tasting sebelum produk Nescafe dipasarkan
Semua perjalanan mulai dari mengunjungi kebun kopi, cara pengolahan biji kopi dari petani, memproses bubuk kopi instan hingga menikmati pemandangan indah dari atas pabrik Nestle ternyata begitu memukau hati saya. Tak bisa mengelak lagi bahwa saya semakin memahami dibalik secangkir kopi Nescafe.
View dari atas pabrik Nestle
Secangkir kopi yang menemani saya saat menulis
Saya jatuh hati berkali-kali dengan kopi. Ahh, rasanya inilah puncak keberuntungan ketika benar-benar mencintai kopi maka Tuhan pun tak pernah ingkar janji untuk memberi saya sebuah kesempatan menikmati kopi sepuasnya. Secangkir kopi inilah yang akan selalu menemani hari-hari saya sampai kapanpun. 


3 komentar

Kopi ijo membawamu sampai lampung hahahahaha... Cerita perjalanan yang detil dan menyenangkan wid.. Terus berkarya.. Next time pas ke Gunung Budeg saya ajak langsung ke Kopi Waris saja biar kerasa keotentikannya.. Semoga Nestle juga memproduksi massal kopi ijo hahahaha... Amin.

REPLY

Oke aku bakal balik kesana lg za, wait me za . . .

REPLY

nikmati kopi karena pahitnya, dengan begitu akan lebih banyak hal manis yang muncul hidup kita. Eaaa.

REPLY

Dear Widha . . . . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates